Tampilkan postingan dengan label jurnalis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2007

AJI PONTIANAK KECAM REKOMENDASI RAKERNAS APPSI

Oleh: Teguh Imam Wibowo

Pontianak, 11/7 (ANTARA) - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pontianak menolak salah satu rekomendasi Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) kepada Presiden agar kasus-kasus yang melibatkan kepala daerah tidak diizinkan untuk diekspos ke publik demi menjaga citra dan legitimasi Pemerintah di mata masyarakat yang cenderung merosot dalam beberapa tahun terakhir.

"Publik berhak untuk tahu dan hal itu tidak dapat dihindari," kata Sekretaris AJI Pontianak, M Aswandi di Pontianak, Rabu.

Ia menambahkan, menjadi resiko seorang pejabat publik untuk mendapat perhatian yang lebih besar dari masyarakat termasuk hal-hal pribadi meski secara etis kurang tepat.

Menurut dia, apabila pejabat publik yang bersangkutan tidak melakukan kesalahan dan melanggar aturan hukum yang berlaku, tentu tidak perlu merasa ketakutan apabila mulai "bersentuhan" dengan aparat penegak hukum.

"Rekomendasi yang ingin memperbaiki citra pemerintah di mata masyarakat itu dapat berbalik menjadi semakin menjatuhkan citra pemerintah," ujar kontributor salah satu media elektronik nasional itu.

Hal itu, lanjut Aswandi, menunjukkan bahwa masyarakat sudah jenuh dan bosan dengan sikap pejabat publik yang memanfaatkan jabatan dan kewenangannya untuk kepentingan pribadi maupun segelintir orang.

"Seharusnya, pejabat publik meniru rekan mereka yang memang memiliki prestasi di tingkat lokal maupun nasional dalam memimpin daerah serta pemberantasan korupsi. Bukan menyalahkan proses penegakan hukum," katanya.

Ia juga mengingatkan media massa untuk mematuhi etika jurnalistik seperti hanya mencantumkan inisial nama seseorang yang diduga melakukan kejahatan hingga putusan yang sifatnya tetap.

"Konsistensi untuk hanya mencantumkan inisial sepatutnya dilakukan media massa dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah," kata Aswandi.

Sebelumnya, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APPSI di Pontianak yang berlangsung 9-11 Juli, salah satu rekomendasi tersebut terkait dengan maraknya kepala daerah yang diduga melakukan tindak pidana.

Sekretaris Jenderal (Sekjend) APPSI, Yeremias T Keban, usai Rakernas mengatakan, ekspos ke publik disarankan ditunda hingga kasus dimaksud memenuhi syarat untuk diajukan ke pengadilan dan pelakunya ditetapkan sebagai terdakwa.

Menurut dia, gencarnya penegakan hukum dalam membasmi korupsi di daerah membuat Gubernur maupun Bupati/Walikota kesulitan untuk mengambil kebijakan yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

Dukungan dari Presiden terkait dengan rekomendasi tersebut dapat berupa Instruksi Presiden (Inpres) atau sejenisnya yang mendukung kepala daerah dalam mengembangkan kreatifitas untuk membangun daerah masing-masing.

Yeremias yakin keinginan APPSI tersebut tidak akan memperburuk citra pemerintah di mata masyarakat.

Ia mencatat setidaknya terdapat empat gubernur yang masih tersangkut kasus dugaan korupsi seperti Usman Ja'far (Kalbar), Mardiyanto (Jawa Tengah), Ali Mazi (Sulawesi Tenggara) dan Danny Setiawan (Jawa Barat).

Ketua Umum APPSI, Sutiyoso di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pembukaan Rakernas APPSI di Pontianak, Senin (9/7) meminta adanya kebijakan khusus dalam penanganan korupsi yang diduga melibatkan kepala daerah.

Ia mengatakan, dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan kepala daerah, cenderung menimbulkan pemberitaan yang tendensius.

"Permasalahan timbul saat pada penanganan korupsi disambut politisasi yang berujung tendensius serta memperkeruh suasana sehingga menimbulkan ketidakstabilan dan ketidakefektifan pemerintahan di daerah," ujar Sutiyoso.

Senin, 14 Mei 2007

STANDAR KOMPETENSI WARTAWAN, SUATU KEHARUSAN

Monday, May 14, 2007


"Masyarakat yang cerdas terbentuk dari wartawan yang cerdas, wartawan yang cerdas ada jika standar kompetensi wartawan tercapai," kata Wakil Ketua Dewan Pers, Sabam Leo Batubara, dalam diskusi "Standar Kompetensi Wartawan" di Pontianak, awal Mei.

Kecerdasan wartawan dalam mengangkat persoalan atau informasi untuk disiarkan, akan membantu menambah pengetahuan dan wawasan, serta membuka pemahaman pembaca terhadap suatu permasalahan yang sedang terjadi. Wartawan yang cerdas ada karena profesionalisme yang dibangun dengan baik dan ditandai dengan kualitas atau mutu karya yang dihasilkan wartawan tersebut.

Namun, kondisi yang terjadi di Indonesia dewasa ini, kualitas wartawan dipertanyakan. Kualitas wartawan yang diukur melalui "Kompetensi", dewasa ini tampak semakin terpinggirkan, karena turunnya reputasi (nama baik) dan harga diri mereka yang berkecimpung dalam profesi itu. Kondisi ini, memerlukan perhatian serius banyak pihak.

Ada banyak kasus yang mengakibatkan reputasi dan harga diri wartawan rusak. Salah satunya, karena ulah segelintir oknum atau pun pihak yang mengatasnamakan wartawan atau jurnalis. Contoh kasusya, pemerasan dengan korban mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat pemerintah. Pelaku pemerasan, mengaku sebagai wartawan, berhasil mendapatkan uang dari korban-korban yang takut kesalahannya terbongkar dan diketahui masyarakat. Reputasi wartawan menjadi rusak. Karena para korban -- tentu saja tetap -- akan menuding wartawan sebagai pelaku pemerasan, tanpa melakukan pengecekan dahulu.

Terkait kasus itu, kompetensi menjadi faktor penting yang harus dicapai seseorang berprofesi wartawan atau jurnalis. Sehingga terdapat pembeda antara wartawan asli dengan wartawan gadungan atau istilah populernya "bodrek". Wartawan yang sesungguhnya (diharapkan) bisa berpikir "seribu kali" jika hendak melakukan aksi serupa. Adanya kompetensi, juga menjadi pembeda dalam persoalan intelektualitas dan kualitas.

Sesungguhnya, apa yang dimaksud dengan kompetensi wartawan?
Tampaknya juga masih perlu penjelasan. Menurut Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Prof DR Moestopo, DR Gati Gayatri, yang dimaksud dengan "Kompetensi Wartawan", kemampuan seorang wartawan melaksanakan kegiatan jurnalistik yang menunjukkan pengetahuan dan tanggung jawab sesuai tuntutan profesionalisme yang dipersyaratkan.

Kompetensi, menurut Dewan Pers dalam buku "Kompetensi Wartawan", Pedoman Peningkatan Profesionalisme Wartawan dan Kinerja Pers, mencakup beberapa aspek. Yakni aspek penguasaan keterampilan, pengetahuan, dan kesadaran. Ketiga aspek itu, diperlukan dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Kesadaran mencakup di dalamnya, etika, hukum dan karir.

Sementara Pengetahuan, meliputi pengetahuan umum, pengetahuan khusus dan pengetahuan teori jurnalistik dan komunikasi (sesuai bidang kewartawanan). Sedangkan keterampilan, mencakup penguasaan menulis, wawancara, riset, investigasi, kemampuan penggunaan berbagai peralatan yang terkait dengan pekerjaan wartawan.

Pencapaian kompetensi

Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk pencapaian kompetensi?
Untuk mencapai standar kompetensi bagi wartawan, tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan perusahaan pers. Menurut Leo Batubara, perusahaan pers yang baik harus memenuhi standar profesional, seperti; memiliki kompetensi sebagai pebisnis media, mengoperasikan SDM yang memenuhi standar kompetensi, memiliki atau minimal mampu menyewa peralatan yang diperlukan dan memiliki modal yang cukup.

Kenyataannya, dari 829 perusahaan pers yang ada saat ini, hanya 30 persen saja yang sehat bisnis. Selebihnya tidak sehat secara bisnis. Negara juga punya tanggung jawab untuk standar kompetensi wartawan dengan mendirikan sekolah jurnalistik sebagai wadah pendidikan bagi wartawan, melakukan reformasi politik hukum negara yang mengkriminalisasi pers dan mengubah penyelenggaraan negara yang punya kecenderungan mengekang dan mengontrol pers.

Selain itu, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai standar kompetensi wartawan, seperti melalui pendidikan jurnalistik, pelatihan jurnalistik dan sistem pengembangan karir dimana wartawan memiliki level tertentu, meliputi yunior, madya, dan senior. Penentuan itu berdasarkan kemampuan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Pada umumnya, wartawan yunior, madya, dan senior, bukanlah lulusan dari lembaga pendidikan tinggi khusus bidang tersebut. Hal ini tentu saja memperpanjang proses pencapaian kompetensi, bila dibandingkan mereka yang memang lulusan pendidikan (S1) jurnalistik, komunikasi atau publisistik. Masalah tersebut, meski masih dapat diatasi dengan adanya pelatihan jurnalistik yang disediakan oleh sejumlah lembaga pendidikan atau pun pengelola media massa, namun hal itu masih amat jarang ada.

Kebanyakan perusahaan media, langsung melepas wartawan muda/yunior untuk terjun ke lapangan, tanpa terlebihdahulu dibekali pemahaman ilmu dan pengetahuan bidang jurnalistik atau kewartawanan. Sehingga ketika menulis berita, ditemukan banyak kesalahan dan kekuranglengkapan informasi yang hendak disampaikan kepada publik.

Pendidikan dan pelatihan menjadi penting, sehingga karir jurnalistik bisa berkembang. Pendidikan dan pelatihan, menjadi syarat bagi seorang jurnalis jika ingin berkembang dan profesional dalam menjalankan pekerjaan. Seorang wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik dengan profesional, akan dihargai di muka publik.

Pada akhirnya, seorang wartawan atau jurnalis, harus punya kemampuan dan kompetensi di dalam menjalankan profesinya. Tanpa itu semua, mustahil kemajuan di bidang jurnalistik bisa dicapai.

Sabtu, 06 Januari 2007

Gank Jomblo

Saturday, Januari 6, 2007


Berawal dari persamaan nasib. Kebutuhan kerja dan semangat berbagi. Mungkin itulah yang membuat kami berkumpul dalam satu ikatan. Satu tongkrongan yang biasa kami sebut Gank Jomblo. Jomblo dalam bahasa gaulnya berarti orang yang belum punya pacar atau pasangan.


Gank Jomblo terdiri dari para wartawati di Kota Pontianak. Mereka adalah Levy, Yanti, dan Evy Tanderi –Vhe (Pontianak Post), Sapariah –Ari (Equator), Ansela Sarating atau Xela (Radio Volare), Kristin Boekit (TVRI), Eva (Radio Sonora), dan saya sendiri, Nurul Hayat atau Uun (LKBN ANTARA). Namun anggota gank sesungguhnya tidak mereka saja. Terkadang ada juga Helen (mantan reporter Sonora). Ia sesekali saja bergabung dengan kami, karena sibuk mengurus bisnis baru di bidang pendidikan sebagai guru privat.

Nama Gank Jomblo berawal dari pikiran Ansela Sarating, (kami biasa memanggilnya Xela). Menurutnya, kalau kami kumpul selalu ramai. Bicara mengenai liputan seperti, ekonomi, politik, hukum dan kriminal, merupakan menu sehari-hari. Tak ketinggalan dan ini juga menjadi menu pokok para perempuan, gosip dan penampilan.

Gank Jomblo menurut Ansela Sarating memiliki “induk”, Bapak LH Kadir yang juga jomblo. Ansela juga menambah nama gank menjadi “Jomblo Ijolumut (hijau dan imut-imut, gitu lho..).

Tak ada yang tahu pasti, kapan munculnya Gank Jomblo. Kami tak ada yang mencatatnya dalam agenda pribadi. Nama itu tiba-tiba muncul. Semua berawal dari ledekan sesama wartawan perempuan di Pontianak. Kebetulan dari kami, banyak yang belum punya pacar atau menikah. Tak heran bila salah seorang teman, Sahat Oloan Saragih, wartawan Suara Pembaruan di Kalbar, menjanjikan pada kami.

“Jika salah satu dari kalian bisa menikah tahun 2003, saya akan menyiapkan undangan pestanya,” kata Sahat. Kenyataannya, tidak ada satu pun dari kami menikah pada tahun 2003. Jadi sayembara itu tentu saja tak ada pemenangnya. Hehe…..resek banget, Sahat.

Ada yang khas dari Gank Jomblo. Kami selalu ber-SMS untuk ketemu makan siang.
“Kumpul di Tjutjuk jam 12.00, teng ya…”
“Otre, menyusul….”
“Lagi di mana nich? Kok belum muncul?”
“On the way, sebentar lagi sampai…”

Begitulah kira-kira bunyi SMS kami. Kenyataannya pertemuan itu selalu ngaret. Dan ini seolah sudah menjadi tradisi. Tak heran bila kedelapan anggota gank tak bisa lengkap untuk kumpul. Biasanya yang paling sering telat adalah Ari. Dan dia juga yang kemudian memopulerkan istilah “on the way” di komunitas gank.

Alasan untuk keterlambatannya sederhana saja. “Mandi atau salat dulu, baru keluar rumah,” kata Ari. Alasan itu selalu menjadi kata kunci. Akhirnya kami pun terbiasa dengan alasannya dan tak begitu mempermasalahkan. Ari memang menjadi redaktur di harian Equator. Ia biasa pulang tengah malam bahkan hingga dinihari. Tak heran bila tidurnya pun sampai siang. Padahal dia tidak ada kerjaan di rumah. Mencuci pakaian, masak dan membereskan rumah, sudah ada yang mengerjakan. Ya itu….mamaknya sendiri.

Berbeda dengan Ari, kami selalu berangkat pagi hari untuk liputan. Entah itu di kantor gubernur, gedung DPRD, atau mengikuti seminar di hotel. Mengikuti seminar berarti makan gratis. Asyik kan. Jika sudah jam makan siang dan tidak ada undangan makan gratis, kami pun dengan cepat berangkat menuju kantin Bu Tjutjuk (baca; Jujuk), di jalan Halmahera.

Kantin itu tempat berkumpulnya banyak orang. Ada yang datang untuk makan siang. Sekedar ngopi sambil main catur. Dan ada juga yang hanya minum sambil cuci mata. Penampilan pengunjung kantin beragam. Ada yang hanya bersandal jepit, tetapi banyak juga yang tampil modis dengan mack up tebal dan berdasi.

Bagi saya pribadi, nongkrong di kantin Bu Tjutjuk bukan hal baru. Kebetulan saya tamatan SMA I, dan bersebelahan dengan kantin. Situasi nongkrong semasa sekolah dan kerja tentu beda. Bila semasa sekolah harus bolos atau sehabis olah raga, baru bisa nongkrong. Saat kerja nongkrong di kantin Bu Tjutjuk berarti cuci mata dan tukar informasi liputan.

Kalau lagi kumpul dan bicara masalah liputan ekonomi, Ari ibarat Sri Mulyani (Menteri Keuangan Kabinet SBY), Kristin seperti Miranda Gultom, dan Xela menjadi Mary Elka Pengestu. Kalau membahas masalah ekonomi, Ari dan Kristin jadi orang paling ramai. Saling debat tanpa peduli kiri dan kanan. Sedang yang lainnya, sesekali menimpali dengan canda.

Paling seru kalau bicara gosip. Apalagi kalau yang ikut kumpul Yanti dan Kristin. Mereka seperti anjing dan kucing. Selalu saling ledek. Suasana kantin rasanya tambah hangat saja. Kalau bicara gosip macam-macam. Sesama anggota gank juga jadi bahan gosip. Misalnya hari itu tak ada Kristin, maka kami menggosipkan dia. Begitu juga dengan yang lain. Orang yang tak hadir hari itu, akan menjadi bahan gosip terhangat.

Selain suka kumpul, Gank Jomblo juga sering liputan bareng ke luar kota. Suatu saat kami liputan soal TKI di Kuching, Sarawak. Nah, yang berangkat personelnya ganti lagi. Selain ada Ari, Xela, Helen, saya, juga ada Eka Sugiatmi (Pontianak Post). Eka saat ini pindah ke Yogyakarta.

Lucunya saat liputan ini, kami menginap di hotel murah. Tetapi bayarnya mesti patungan berlima untuk satu kamar. Kamarnya berada di lantai empat. Untuk sampai ke kamar, harus naik anak tangga terjal. Kalau habis liputan atau belanja di India Street, salah satu dari kami menentang bungkusan belanja yang besar-besar.

Ada dua orang punya kegemaran belanja. Siapa lagi kalau bukan Ari dan Eka. Kami saling tahu, Ari selalu membawa oleh-oleh buat keluarga atau temannya. Kemanapun liputan atau untuk suatu urusan. Dia selalu membungkus oleh-oleh itu dalam plastik besar. Biasa disebut plastik kresek. Terkadang ia kerepotan membawanya. Tetapi, Ari tidak pernah merepotkan temannya. Dia selalu membawa bungkusan belanjaannya sendiri. Ari tak pernah minta bantuan kami.

Pulang belanja sambil membawa plastik hitam, tentu saja mengundang perhatian banyak orang. Pernah sekali waktu, ketika hendak menyeberang jalan di Kuching, Malaysia, seorang pengemudi mobil pick up membunyikan klakson menyapa kami.

“Wah, kita dikira TKI gara-gara bawa bungkusan plastik,” kata Helen.

Di Gank Jomblo, Ari dikenal “pemabuk”. Sama seperti Xela. Kalau pergi naik mobil selalu pusing-pusing dan ingin muntah. Kami sering mencandainya, “Wah tidak punya bakat jadi orang kaya.” Dengan kepindahannya ke Jakarta, kami tentu tidak bisa memastikan, apakah kebiasaan mabuknya masih berlangsung. Kalau masih, wah, kasihan sekali Ari. Tak bisa menikmati naik angkot, karena khawatir mabuk lagi… Ah, mabuk lagi… Kacian deh.

Di Gank Jomblo, Ari dan Levy paling kompak. Kalau boncengan motor saat meliput, sepanjang jalan selalu bernyanyi. Lagunya macam-macam. Tentu saja yang berbau pop anak muda.

Ari sering membujuk Levy, kalau sedang merajuk. Levy gampang menangis, walaupun badannya paling besar di gank. Sementara Ari, dikenal paling kuat. Saat ayahnya meninggal, ia kuat dan tidak menangis.

Selain gemar menyanyi saat naik motor, mereka juga mahir ber-sms-an. Tanpa peduli lalu lintas dan kendaraan di sekitarnya. Tangan kanan memegang gas, tangan kiri memegang telepon genggam membalas sms narasumber.

Wah kalau soal sms sambil jalan pakai motor, Ari memang ahlinya. Saya mengakui hal itu. Pokoknya di Gank Jomblo, Ari jadi maskot. Banyak cerita lucu ketika bersamanya. Tapi Gank Jomblo ada pasang surutnya. Sejak kepindahan Xela ke Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, karena diterima menjadi PNS, disusul Ari pindah kerja ke Jakarta, dan Vhe lulus test PNS Pemda Kalbar. Jumlah anggota gank pun semakin berkurang.

Satu persatu anggota gank memiliki pasangan hidup. Diawali pernikahan Vhe, lalu saya. Dalam waktu dekat, Ari dan Yanti juga menyusul. Kami pernah membuat foto bersama di studio. Mungkin hal itulah yang menjadi bukti, bahwa Gank Jomblo dengan delapan personilnya, pernah kumpul bareng.

Ketika melihat foto itu, pikiran saya pun menerawang. Ada rasa suka, duka, haru, dan semua perasaan itu bercampur aduk. Foto itu menyisakan pertanyaan. Bagaimana kabarmu sobat?